Senin, 11 Januari 2016

KAMU YANG AKU SEBUT DENGAN JODOH


Dulu aku selalu bertanya sama Tuhan siapa jodoh ku?
Setelah melakukan perjalanan cukup panjang dan harus tersesat di beberapa hati seorang laki-laki aku bertemu dengan dia, Suami ku.
Awalnya aku sama sekali tidak menyangka bahwa laki-laki cuek seperti dia lah yang pada akhirnya menjadi suami ku.

ceritanya di mulai ketika aku praktik Rumah sakit di RSUD Muntilan kabupaten magelang, ketika itu tanggal 27 November 2013 salah seoarang teman ku sebut saja namanya B mampir kos-kosan ku, dan di sepanjang hari itu dia terus bercerita tentang laki-laki bernama Denny, sampai aku bosan mendengarnya. Dia bilang “tau nggak ternyata sepotong Senja itu nama aslinya Denny loh” entah bagaimana teman-teman satu kos ku justru menanggapinya dengan serius. Sedang aku nggak begitu tertarik karena memang aku tidak tau dan tidak kenal siapa Sepotong Senja itu. Tapi lama kelamaan aku tertarik juga dengan satu nama yang terus ia sebut-sebut “Denny” siapa dia?

Penasaran juga dengan laki-laki bernama Denny si pemilik akun “sepotong senja” yang tidak pernah aku tau tapi begitu terkenal di kampus ku bahkan mungkin semua masyarakat kampus ku berteman dengan nya di facebook. Dan untuk menghilangkan rasa penasaran ku akhirnya aku putuskan untuk search nama “sepotong senja” ketemu lah dia yang ternyata mempunyai sekian ratus teman yang sama dengan ku.

30 November 2013
Entah mengapa aku semakin penasaran dengan Denny, kembali aku buka akun facebooknya aku baca setiap postingannya, dan saat itu lah aku sempat tertegun untuk waktu yang cukup lama. Bahkan aku bertanya-tanya siapa sebenarnya dia? Apakah dia seorang laki-laki baik? Atau sama hal nya dengan laki-laki yang pernah aku kenal? Entahlah aku tidak berani berharap lebih kala itu aku takut kecewa untuk yang kesekian kali nya.
Tapi setidaknya aku ingin bisa melihatnya secara langsung walau tanpa mengenalnya.
Siapa dia?
Bolehkah aku mengenalnya?
Aku belum pernah melihat wajahnya seperti apa tapi mengapa nama itu terus aku sebut-sebut dalam hati kecil ini?

1 Desember 2013
Saat itu adalah hari pertama aku bertemu dengan dia, Denny.
Ketika itu adalah hari dimana aku harus menghadap pembimbing ruangan untuk responsi hasil askep ku dan bertepatan dengan hari dimana aku dan teman-teman harus orientasi ruangan ke bangsal selanjutnya, Ruang menur.
Setelah selesai aku bersama salah satu teman laki-laki ku menuju ruang Menur tapi sayangnya sudah terlambat dan tertinggal oleh teman-teman ku yang lain. Sesampainya di ruangan itu bukan orientasi yang kami dapatkan melainkan penolakan orientasi dikarenakan hari minggu, ngeselin banget 2 perawat itu. Lebih ngeselin lagi yang laki-laki, dia yang ngusir kami buat pulang dan kembali besok pagi. Tapi tunggu, ada yang aneh disana.
sepasang mata itu,
wajah yang meski tertutup masker itu,
siapa dia? Ada apa dengan hati ini?
Ketika itu aku tidak merasakan lagi bahwa kaki ku masih berpijak diatas bumi.
Dan untuk pertama kalinya hati ini bergetar hebat ketika sepasang mata itu menatap ku, dan perlahan ku lirik dada sebelah kananya, “DENNY” nama itu yang tertera di bajunya.
Diakah sepotong senja?

Rasa penasaran ku semakin besar, sesampainya di kost ku aku orak arik facebooknya, mulai dari profilnya, foto-fotonya, semuanya.
Ketika aku buka foto-foto jadulnya ada komentar-komentar dari kekasihnya dengan kata-kata mesra.
Sakit.
Iya, sakit yang pertama kali aku rasakan.
Seharusnya tidak mengapa dia mempunyai kekasih, mengapa aku harus merasakan nyeri yang cukup hebat di dalam hati ini?
Apa yang salah jika dia sudah mempunyai dambaan hatinya?
Malamnya aku tidak bisa tidur sama sekali, masih terngiang dengan jelas percakapannya dengan gadis itu. Beruntung sekali wanita itu,
Loh kenapa aku berfikir seperti itu? Aku belum mengenalnya bahkan punya kesempatan untuk bisa mengenalnya saja aku tidak tahu.
Dan aku juga tidak tahu apa yang membuat ku sakit hati seperti itu sehingga membuat ku semalaman menangis karenanya, aku hanya merasa bahwa pencarian ku akan berhenti di hatinya, tapi bagaimana jika tidak?
Allah...
Begitu sakit rasa ini, dapatkah aku mengenalnya?

2 Desember 2013
Kala itu adalah hari pertama di ruang Menur dan hari pertama juga aku melihat wajahnya, teduh sekali wajah itu, menenangkan sekali tatapannya. Tapi hanya diam yang aku lalui sepanjang hari itu, dia terlalu cuek. Dan tidak ada percakapn lain diantara kita selain pertanyaan nya “gimana mbak? Bisa?”
Sunyi, sepi, dan hening yang aku rasakan sepanjang hari.
Dia beda, sangat beda, aku takut untuk mendekatinya.
Tak adakah 1 sisi saja dalam diriku yang bisa menerik perhatiannya?
Aku sangat ingin mengenalnya walau aku tau dia sudah punya pacar,
Adakah sedikit kesempatan untuk ku mengenal dirinya?
Aku lelah terus mencari laki-laki yang pas untuk diriku.
Bolehkah aku berdo’a dengan egois supaya engkau pisahkan dia dengan kekasihnya dan menggantikannya dengan diriku?
Bolehkan aku minta dia sebagai jodoh ku?
Ya ampun, ada apa dengan diri ini? Kenapa rasa ini begitu kuat mendesak ku? 

3 Desember 2013
Hari kedua jaga siang bersamanya kembali, belum ada perbahan. Sepi, sunyi, sikapnya yang dingin. Ngobrol apa kek?
Bertambah rasa penasaran ku terhadap kepribadiannya, aku bersumpah kala itu “awas saja kalau sampai kamu jatuh cinta pada ku, tak kan pernah aku lepaskan kamu dari ku seumur hidup ku”
Bertahun-tahun aku menunggu perasaan yang hadir dalam hati seperti ini. Bertahun-tahun aku menunggu kehadiran sosok laki-laki yang mampu membuat ku lupa bahwa hati ini pernah hancur menjadi kepingan-kepingan tak berharga. Tapi mengapa laki-laki yang bisa membuatku merasa nyaman di dekatnya jstru laki-laki yang sudah mempunyai kekasih?

4 Desember 2013
Jaga malam perdana di ruang Menur, mandi sudah, sholat sudah tinggal berangkat.
Tapi kenapa hati ini berdebar keras lagi ya?
Ternyata sesampainya di ruangan itu aku berhalusinasi dengan aroma tubuhnya, wangi itu. Ah ternyata tidak, memang benar dia. Aku jaga malam bersamanya, oh Tuhan... rencana apa yang telah kau gariskan untuk ku? Kenapa aku terus jaga bersamanya sedang dia sama sekali tidak tertarik dengan ku?
Tapi ternyata malam itu aku tidak perlu kecewa, bahkan kebahagiaan yang berlipat ganda yang menimpa hati ku, seperti hembusan angin yang bertiup pelan membelai setiap helai rambut ku.
Aku dapat mengenalnya, bahkan setelah bertanya basa basi dia lebih berani bertanya lebih jauh pada ku, darimana asal ku, dan apakah aku sudah punya pacar atau belum, tidak sampai itu saja. Dia bahkan menceritakan kalau dia jomblo dan sudah lama putus dengan pacar pertamanya.
Dan lebih membahagiakan lagi gara-gara basa-basi nya itu lah malam itu dia mengawalimengirim pesan singkat untuk ku.

9 Desember 2013
Allah...
Mungkinkah ini jalan mu?
Mungkinkah ini rencana yang sudah kau susun untuk ku?
Mungkinkah kau mengirimkan dia untuk ku?
Mungkinkah kau gariskan dia untuk ku?
Mungkinkah tulang rusuknya yang hilang itu adalah aku?
Apakah dia yang akan aku sebut “JODOH?”
Aku takut membicarakan tentang jodoh, aku takut bukan dia yang kau gariskan untuk ku sedang aku begitu berharap bahwa laki-laki itu adalah dia.
Tapi terimakasih karena sampai saat ini komunikasi kita tetap lancar.

12 Desember 2013
Ketika itu rasa bahagia ku terpenuhi sudah bahkan sampai meledak rasanya, hari ulang tahun ku dan pagi nya mas Denny repot-repot sampai kost untuk ngucapin selamat ulang tahun dan bawa sebuah kado ulang tahun. Dan yang lebih membahagiakan lagi adalah ketika sore nya aku di ajak keluar dan saat itu lah dia berkomitmen dengan ku di sebuah masjid. Fikir ku saat itu cepat sekali?
Tapi aku memahami bahwa cinta tak harus menunggu lama, bahkan sebelum aku bertemu dengan nya aku sudah jatuh cinta dengannya.

16 Mei 2015
Singkat cerita yah, tepatnya 16 Mei 2015 dia dan keluarga nya datang ke rumah ku untuk melamar ku sekaligus menjadi tanggal pertunangan ku dengan nya. Alhamdulillah dia benar-benar membuktikan semua perkataannya, dulunya aku sempat merasa kesal kenapa dia jarang bahkan hampir tidak pernah berjanji apa-apa terhadap ku, tapi kekesalan itu terbayar sudah dengan apa yang selalu dia buktikan untuk cintanya. Terimakasih untuk semuanya sayang.

20 Desember 2015
Setelah penantian yang cukup panjang dan cukup membuat ku was-was akhirnya hari itu datang juga, hari dimana aku sah menjadi istri mu, hari dimana kamu mengucapkan akad untuk ku. Rasanya ingin menangis
Tidak
Bukan ingin, bahkan aku sudah menangis ketika para saksi mengucapkan kata “sah” untuk pernikahan kita. Aku menangis bahagia karena aku bisa berubah menjadi seorang gadis yang mampu bertahan menjalin hubungan dengan seorang pria sampai 2 tahun lamanya. Mungkin bagi kebanyakan orang 2 tahun adalah waktu yang sangat singkat, tapi bagi diriku 2 tahun adalah waktu yang sangat lama mengingat sejarah percintaan ku dulu yang paling awet paling cuma 6 bulan. 
Disisi lain aku juga menangis sedih ketika secara diam-diam ku lirik sosok laki-laki yang ada di samping ku persis, laki-laki yang selama 21 tahun merawat ku, laki-laki yang selama 21 tahun ada untuk ku, laki-laki yang selalu menjadi alasan untuk ku tetap kuat dan bertahan dalam keadaan terpuruk sekalipun, iya dia ayah ku. 
Entah mengapa aku lebih sedih ketika melihat wajah Ayah ku dibanding Ibu ku, mungkin karena hanya Ayah ku yang tak pernah memarahi ku sejak aku mulai ingat tantang kenangan masa lalu, karena Ayah ku yang selalu berjuang mati-matian untuk ku, karena Ayah ku yang selalu berdiri disamping ku menggenggam erat tangan ku disetiap kondisi apapun, dan aku semakin ingin memeluk ayah ku ketika aku menyadari bahwa beliau juga meneteskan air mata. 
Aku nggak tau apakah itu air mata bahagia karena putri nya telah menempukan pendamping hidupnya sekaligus air mata kesedihan karena setelah ini putri yang sejak kecil di timang nya, di suapi nya di peluknya serta di temani tidurnya akan dibawa pergi jauh oleh laki-laki yang saat ini lebih berhak menjaganya, aku tahu bahwa ada rasa berat untuk melepas ku yang terlukis di mata nya, tapi beliau juga melukiskan senyum bahagia ketika melihat tawa ku. 
Terimakasih Ayah terimakasih Ibu sudah menjadi orang tua terbaik sedunia untuk ku, dan terimakasih juga untuk suami ku saat ini yang selalu menjaga ku, menyayangi ku, mencintai ku dan juga keluarga ku. Terimakasih sudah bersedia menggantikan posisi Ayah ku untuk bertanggungjawab penuh atas diriku.
Aku mencintai mu Suami ku, dan aku merindukan mu Ayah Ibu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar